1.
Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuha-sabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.
2.
Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah Radhiallaahu anha “Bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat”. (Muttafaq `alaih).
3.
Disunnatkan berwudhu’ sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan. Al-Bara’ bin `Azib Radhiallaahu anhu menuturkan : Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu’lah sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan...” Dan tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya.
4.
Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwasa-nya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya...” Di dalam satu riwayat dikatakan:”tiga kali”. (Muttafaq `alaih).
5.
Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar Radhiallaahu anhu menuturkan :”Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda :”Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka”. (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
6.
Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya”. (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
7.
Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur. Dari Jabir Radhiallaahu anhu diriwayatkan bahwa sesung-guhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman”. (Muttafaq’alaih).
8.
Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.
9.
Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, seperti : "Allaahumma qinii 'adubaka wauma tab'atsu 'ibadaka"
اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ (رواه أبو داود وصححه الألباني) ،
“Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani).
Dan membaca: "Bismika allaahumma amuutu wa ahyaa"
بِاسْمِكَ اَللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا (رواه البخاري)
“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al Bukhari).
10.
Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a: "A-'uudzu bikalimaatillaahi tammati min ghadhabihi wa syarra 'ibadihi, wa min hamazaatisysyayathiini wa an yahdhuruuni"
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّياَطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ (رواه أبو داود وحسنه الألباني)
Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani).
11.
Hendaknya apabila bangun tidur membaca : "Alhamdulillaahilladzii ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihinnusyuuru"
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ (رواه البخاري)
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Al-Bukhari).
9.27.2011
Adab Tidur dan Bangun Tidur
Posted by deddynoer at 3:33 AM
Labels: Tentang Hidoep
10.28.2009
Tips Anak Terhindar dari Pelecehan Seksual
Kasus pelecehan seksual pada anak seringkali terjadi. Bahkan bisa dikatakan jumlahnya makin meningkat. Dampak negatifnya tidak hanya secara fisik tetapi juga psikologis.
Pelecehan seksual pada anak bisa menimbulkan efek trauma selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup. Anda tentu tidak ingin hal tersebut terjadi pada buah hati. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar buah hati terhindar dari pelecehan.
1. Tidak ada rahasia
Ajarkan si kecil untuk selalu terbuka dalam menyampaikan perasaannya. Buat dia selalu bercerita perasaannya baik saat senang, sedih, takut dan gembira. Hal ini membuatnya tidak akan merahasiakan hal sekecil apapun dari Anda, termasuk perlakuan yang diterimanya dari orang sekelilingnya. Dengan begitu Anda tahu siapa saja yang ia temui dan dekat dengannya.
2. Jangan memakaikan aksesori yang terdapat namanya
Hindari memakaikan aksesori yang terdapat nama buah hati saat ia bermain di taman atau tempat bermain, dan Anda tidak memperhatikannya dengan seksama. Bisa saja ada orang yang menghampiri dan menyebutkan namanya, kemudian berkata bahwa ia sedang dicari Anda. Buah hati pun bisa langsung menurutinya karena merasa orang asing tersebut tahu namanya.
3. Ajarkan fungsi dan nama dari tiap organ tubuhnya
Ajarkan sedini mungkin fungsi dan nama dari setiap organ tubuhnya termasuk organ vitalnya. Tidak masalah jika ia menyebut vagina, penis atau payudara, karena memang itulah namanya.
Hindari menggunakan istilah untuk menyebut organ vitalnya, hal itu malah bisa membuatnya bingung. Katakan pada buah hati organ intim yang mereka miliki harus dijaga baik-baik dan tidak boleh dipegang sembarang orang dan jika ada yang memegangnya ajarkan pada si kecil untuk berteriak dan lari sekencang-kencangnya.
4. Kondisikan situasi
Jika buah hati sudah cukup umur dan bisa mengerti buatlah cerita dengan awalan pertanyaan "bagaimana jika". Misalnya, "bagaiman jika ada orang dewasa yang kamu tidak kenal memberikan permen". Jika jawaban si kecil menerima permen dan akan bermain bersamanya segera katakan padanya bahwa hal itu berbahaya.
Buatlah buah hati mengerti bahwa situasi tersebut membahayakannya, dengan menyebutkan kemungkinan yang ada seperti bisa saja ia diculik atau disakiti dengan orang asing tersebut.
Posted by deddynoer at 10:07 AM
Labels: Tentang Hidoep
3.11.2009
deddynoer: Membangun Profil Keluarga yang Merdeka dari Narkoba
BAPAK dan Ibu Atmo sedang bingung. Novi, putri mereka, kedapatan sedang teler di rumah temannya setelah menggunakan narkoba. Mereka tidak percaya putri mereka yang dulu begitu lucu dan lugu sekarang telah menjadi pecandu narkoba. Keadaan makin buruk karena setelah itu mereka saling menyalahkan. Sang istri menyalahkan suami karena tidak pernah di rumah dan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sang suami menyalahkan istri yang tidak mendukung upayanya untuk mendapatkan uang dengan bekerja. Istri dianggap tidak mampu mengontrol dan mendidik anak. Karena kesal dengan pertengkaran yang kerap terjadi di rumah, Anto anak laki-lakinya memutuskan untuk kabur dari rumah. Bapak dan Ibu Atmo makin bingung dibuatnya.
Dalam kasus penyalahgunaan narkoba, keluarga kerap menjadi pihak yang paling terakhir tahu tentang hal ini. Biasanya reaksireaksi emosional senantiasa menyertai kejadian seperti itu. Bisa marah, sedih, heran, atau kaget. Bayangkan jika peristiwa tersebut dialami keluarga kita. Reaksi-reaksi seperti apa yang akan kita tampilkan? Sanggupkah kita menerima kenyataan ini? Apakah ada cara agar kita bisa terhindarkan dari peristiwa-peristiwa seperti itu? Bagaimana membentuk sebuah keluarga yang baik yang anggota-anggotanya punya rasa memiliki dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun untuk keluarganya?
Keluarga dan Narkoba
Riset protektif yang dilakukan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) pada 2005 menemukan sejumlah faktor yang membuat seseorang tidak menggunakan narkoba. Faktor-faktor tersebut berupa faktor internal dan eksternal. Pada faktor eksternal, ada profil keluarga tertentu yang ditemukan pada bukan pecandu, tapi tidak ditemukan pada pecandu. Diduga, profil keluarga itu yang bisa menjadi faktor protektif (pencegah) seseorang untuk menyalahgunakan narkoba.
Profil yang digambarkan dari riset tersebut adalah sebuah keluarga yang anggota-anggota keluarganya (khususnya orang tua) saling membantu untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah anak yang sulit maupun menyelesaikan masalah-masalah pribadi. Pada keluarga ini, orang tua memantau kegiatan anak dan memberi kesempatan untuk bertukar pikiran dengan anak. Antaranggota keluarga saling memerhatikan dan jarang ada pertengkaran antar anggota. Orang tua memiliki waktu khusus bersama anak (umumnya di Sabtu atau Minggu) dan jarang memberi hukuman pada anak.
Namun, perlu dicatat bahwa hasil penelitian ini hendaknya tidak dijadikan acuan baku. Artinya jika kita tidak pernah membantu anak menyelesaikan pekerjaan sekolah yang sulit, tidak bisa langsung disimpulkan anak kita terkena narkoba. Atau sebaliknya, jika saya membantu anak menyelesaikan persoalan pribadinya, pasti ia tidak akan terkena narkoba. Masih ada faktor lain yang berperan.
Model keluarga
Lalu seperti apa bentuk nyata profil keluarga seperti itu? Harus diakui dalam situasi sekarang tidak mudah untuk mencari contoh keluarga seperti itu. Entah kenapa di kepala ini yang langsung muncul adalah keluarga Cosby. Ya, ini sebuah keluarga rekaan di televisi tahun 80-an. Sungguh menyenangkan menyaksikan pola interaksi yang ada dalam keluarga tersebut. Terasa betul kehangatan antaranggota keluarga. Problem dalam keluarga tetap ada, tapi dapat diselesaikan dengan humor dan kedamaian. Untuk Anda yang kangen dengan tayangan itu, masih bisa dilacak di Youtube.com. Pertanyaan untuk kita berikutnya adalah mungkinkah keluarga seperti ini kita ciptakan atau kita usahakan? Adakah patokan-patokan tertentu untuk membangun keluarga mengingat salah satu faktor pencegah penyalahgunaan narkoba adalah keluarga?
Stephen Covey dalam bukunya 7 Habits for Highly Effective Family menganjurkan tujuh kebiasaan untuk menciptakan keluarga yang efektif. Ia mengajak keluarga- keluarga untuk membangun kebiasaan-kebiasaan tertentu yang pada akhirnya bisa membentuk sebuah keluarga yang baik. Covey sangat meyakini keluarga efektif bisa diupayakan melalui pembentukan karakter dari setiap anggota keluarga. Sementara itu, karakter sendiri dapat dibentuk dengan menjalankan sejumlah kebiasaan (habits) secara berkesinambungan. Ia mengatakan, "Siapa menabur gagasan akan menuai perbuatan, siapa menabur perbuatan akan menuai kebiasaan, dan siapa menuai kebiasaan akan menuai karakter."
Sebuah keluarga, menurut Covey, dapat diibaratkan sebuah pesawat yang sedang menjalani sebuah rute penerbangan dari sebuah bandara menuju bandara tertentu. Sebelum pesawat tinggal landas, pilot telah memiliki rencana penerbangan (flight plan). Mereka telah mengetahui harus berada di jalur penerbangan mana dan menuju ke arah mana. Pada kenyataannya, tidak seluruh rencana tersebut dapat dijalankan. Kadang-kadang gangguan angin, tekanan udara, cuaca hujan, dan sebagainya dapat menyebabkan pesawat tersebut harus keluar dulu dari jalurnya dan melakukan sejumlah penyesuaian. Namun, pesawat tetap akan mengarah pada tujuannya semula. Keberadaan tujuan (yang diistilahkan Covey sebagai vision) merupakan kunci penting untuk membentuk keluarga efektif.
Seperti juga pesawat tadi, keluarga- keluarga kerap keluar dari jalur dan dari rencana-rencana yang telah dibuat sebelumnya. Namun jika keluarga tersebut telah memiliki suatu tujuan, keluarga tersebut akan tetap terarah pada tujuannya. Di sini kita tidak perlu terlalu khawatir karena, menurut Covey, 90% keluarga pernah keluar dari jalur. Yang perlu lebih kita waspadai adalah karena kebanyakan keluarga tidak mempunyai tujuan.
Dalam kerangka itulah, Covey menganjurkan keluarga-keluarga untuk menjalankan tujuh kebiasaan guna membentuk keluarga efektif. Kebiasaan itu akan membantu keluarga untuk memiliki sebuah tujuan dan senantiasa ingat untuk kembali kepada jalur semula manakala kita telah menyimpang cukup jauh. Kebiasaan- kebiasaan itu akan memunculkan harapan-harapan baru manakala keluarga kita sedang kesusahan.
Kebiasaan yang dimaksud Covey di sini mencakup pengetahuan (tentang apa yang dan mengapa dilakukan), keinginan untuk melakukan, dan keterampilan (tahu bagaimana melakukannya). Memiliki pengetahuan untuk melakukan sesuatu, tapi tidak punya keinginan dan tidak memiliki keterampilan tentu tidak akan menghasilkan apa-apa, dan demikian seterusnya. Ketiga hal itu tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Misalnya saja kita tahu kita harus mendengarkan (listening) anak kita dan kenapa itu penting. Kita punya keinginan kuat untuk mendengarkan. Namun, bila kita tidak punya keterampilan untuk mendengarkan, sia-sia saja.
Tujuh kebiasaan
Ada orang yang langsung menampilkan reaksi tertentu manakala ia mendapat rangsangan tertentu. Misalnya, selalu menampilkan reaksi marah dan (sering diucapkan sebagai marah balik) pada waktu dimarahi, senantiasa mengomel pada waktu anak melaporkan nilai jelek. Biasanya mereka akan mengatakan, "Saya begini karena Anda (atau orang lain) melakukan hal yang tidak menyenangkan kepada saya." Benarkah demikian? Benarkah reaksi kita ditentukan stimulus apa yang diberikan orang lain kepada kita?
Hal itu yang disadari Covey. Menurutnya, sebagai manusia kita memiliki tanggung jawab (responsibility) terhadap hidupkita. Responsibility menurut Covey berasal dari kata response danability. Jadi, kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk memilih respons mana yang ingin kita tampilkan dalam situasi tertentu. Kita bukan budak dari kondisi ataupun stimulus.
Kembali pada contoh di atas, sesungguhnya kitalah yang memilih respons untuk marah atau tidak marah pada waktu kita sedang dimarahi orang lain. Kita bisa memilih untuk tidak mengomel atau tetap merasa nyaman pada waktu ada orang yang berbuat tidak enak kepada kita. Jika kita sadar bahwa kita memiliki kemerdekaan untuk memilih respons apa yang ingin kita tampilkan dalam sebuah situasi, kita sudah mengembangkan kebiasaan pertama yaitu jadilah proaktif (be proactive).
Salah satu hal yang bisa membedakan orang proaktif dengan orang reaktif adalah bahasa yang mereka gunakan. Bahasa orang reaktif misalnya, "Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan, saya memang sudah begitu dari dulu, saya harus..." Sementara itu, orang proaktif menggunakan bahasa, "Mari kita lihat alternatif lain, saya mau mencoba pendekatan yang lain, saya memilih untuk..."
Covey menyarankan untuk tidak bersikap reaktif (berdasarkan emosi atau kondisi sesaat saja). Keluarga- keluarga perlu menyadari perilaku yang ditampilkan dalam keluarga sebenarnya bukan korban keadaan (condition), melainkan sebuah pilihan (decision).
Kebiasaan itu dapat ditumbuhkan di dalam keluarga, misalnya dengan tidak ikut-ikutan membicarakan seseorang yang tidak hadir pada waktu pembicaraan terjadi, meminta maaf jika melakukan kesalahan, dan tidak menyontek meskipun tidak belajar. Kebiasaan kedua adalah memulai segala sesuatu dengan gambaran hasil akhir (begin with the end in mind) yang jelas. Dari sini kita bisa membuat langkahlangkah apa yang akan kita lakukan untuk mencapai hal tersebut. Itu akan membuat perilaku kita lebih efisien dan terarah. Hasil akhir (end in mind) dapat terpusat pada berbagai hal seperti keluarga, pasangan, uang, pekerjaan, agama, dan kenikmatan yang kita anggap penting buat kita.
Covey menganjurkan sebuah cara guna menemukan end in mind bagi hidup kita masing-masing. Caranya adalah membayangkan apa yang kita ingin orang lain ucapkan tentang kita pada waktu upacara pemakaman kita. Apakah kita akan dikenang sebagai seseorang yang sangat perhatian pada keluarga, pekerja keras yang jujur, atau sebagai seseorang yang jahat, koruptor, atau penjahat kelas kakap.
Membuat rumusan tentang keluarga seperti apa yang ingin kita bentuk bisa menjadi sebuah cara untuk membangun keluarga efektif. Kita juga bisa membiasakan setiap anggota keluarga untuk selalu memiliki end in mind yang jelas sebelum melakukan sesuatu. Selain itu, kita juga perlu mengingatkan setiap anggota keluarga apakah perilaku yang ditampilkan mendukung pencapaianend in mind yang telah dicanangkan.
Kebiasaan ketiga adalah dahulukan hal-hal yang penting (put first things first). Hal yang penting adalah hal yang memang memiliki kaitan erat dengan tujuan keluarga. Di luar itu boleh diturunkan prioritasnya. Sebaiknya kita memang memikirkan hal-hal apa yang penting buat keluarga kita. Misalnya ada seorang kawan dekat yang mengatakan hal penting bagi dia adalah keluarga. Karena itu, bekerja keras dianggapnya sudah memberikan yang terbaik bagi keluarga, Namun, dia bekerja tidak kenal waktu sehingga keluarganya telantar. Memang dia menghasilkan banyak uang, tapi bukan itu semua yang diharapkan keluarganya. Mereka mengharapkan kawan tersebut hadir di rumah dan bercengkerama dengan keluarga. Apakah benar kawan kita ini sudah mengutamakan keluarganya?
Pada titik ini, klarifikasi terhadap hal yang dianggap utama menjadi penting. Apa yang dianggap sebagai hal utama oleh seorang anggota keluarga belum tentu selaras dengan hal utama anggota keluarga yang lain. Coba bayangkan bagaimana bisa seorang anak menghabiskan waktu 7 jam sehari di depan televisi, tapi hanya 5 menit yang dihabiskan bersama ayahnya.
Saran yang diberikan Covey untuk bisa mendahulukan yang utama adalah membangun kebiasaan membuat rencana. Duduk bersama pasangan dan anak, merencanakan dua bulan ke depan mau melakukan apa (mengunjungi keluarga lain, mempersiapkan ulang tahun, berlibur, ke mal, nonton bareng, atau apa pun). Pastikan anak-anak diberi kesempatan untuk memberikan ide-idenya. Saran lain adalah komit terhadap acara-acara keluarga, rencanakan rapat atau aktivitas harian Anda dengan baik. Juga, sediakan waktu untuk pertemuan satu lawan satu dengan tiap anggota keluarga secara bergilir.
Keempat adalah berpikir menang - menang (think win-win). Hindari cara berpikir untuk menang- kalah atau kalah-kalah. Di sini, perlu kreativitas untuk mencari solusi-solusi yang bisa membuat seluruh pihak merasa menang dalam penyelesaian masalah. Perlu diingat, tidak ada seorang pun yang suka mengalami kekalahan. Covey menuturkan sebuah kisah beberapa anak yang baru saja kehilangan ayah dan ibu mereka karena kecelakaan pesawat. Tidak lama setelah itu, mereka ribut memperebutkan benda- benda yang bisa membuat mereka memiliki kenangan akan orang tua mereka. Mereka tidak mau saling mengalah, mendahulukan kepentingan pribadi, dan lupa mereka adalah satu keluarga. Mereka akhirnya bisa menyelesaikan masalah mereka setelah menggunakan pendekatan menang- menang dengan menyadari hubungan persaudaraan jauh lebih penting.
Salah satu hal yang bisa membuat seseorang berpikir menangmenang adalah mentalitas berkelimpahan (abudance mentality). Tiap anggota keluarga tidak hanya berbicara tentang saya, tapi tentang kita. Selain itu, tiap anggota juga perlu diajak untuk melihat gambar yang lebih besar (the big picture) dari persoalan yang tengah terjadi. Covey menganjurkan cara-cara praktis untuk menanamkan pola pikir menangmenang itu kepada anak-anak. Misalnya dengan mengajak anak berjalan-jalan ke taman dan pantai. Bicarakan betapa mengagumkannya matahari dan betapa matahari itu tersedia cukup untuk setiap orang. Ajak anak melakukan permainan dan tekankan bahwa menang bukan segala-galanya.
Keluarga dengan pendekatan menang-kalah akan menciptakan atmosfer yang kurang baik sehingga tidak terjadi relasi yang hangat di dalamnya. Padahal suasana keluarga yang akrab dan bersahabat merupakan salah satu faktor pencegah penyalahgunaan narkoba.
Kebiasaan kelima adalah berusahalah terlebih dahulu untuk mengerti, baru kita akan dimengerti (seek first to understand, then to be understood). Kebiasaan itu penting karena para anggota keluarga kadang-kadang tidak menyadari apa yang mereka lihat, pikir, atau rasakan belum tentu sama dengan apa yang dilihat, dipikir, atau dirasakan anggota yang lain. Persepsi memegang peranan penting di sini. Dalam interaksi orangtua-anak, perbedaan persepsi sering kali menimbulkan persoalan. Dalam beberapa kasus, berujung pada penggunaan narkoba.
Menurut Covey, kunci utama untuk bisa mengatasi perbedaan persepsi itu adalah kerelaan untuk mau memahami orang lain. Dengan tegas ia mengatakan, "When you understand, you donÃt judge." Lebih jauh, ia mengatakan daripada mengharapkan orang lain untuk memahami kita terlebih dahulu, lebih berguna jika kitalah yang terlebih dahulu coba memahami orang lain. Tingkah laku kunci di sini adalah dengan mengembangkan keterampilan mendengarkan dengan empati. Untuk bisa mendengarkan dengan empati, Covey menyarankan kita untuk berperan sebagai penerjemah yang andal dalam proses komunikasi sehari-hari. Penerjemah yang andal akan mendengarkan setiap perkataan dengan sepenuh hati karena ia harus melakukan penerjemahan.
Covey mengajak kita untuk melakukan refleksi pada anggota keluarga kita. Apakah semua suara anggota keluarga sudah didengarkan? Apakah ada yang merasa tidak dipahami? Adakah yang merasa diperlakukan secara tidak adil? Dengan melakukan diskusi seperti itu, kita bisa membangun kebiasaan untuk memahami orang lain. Itu juga salah satu faktor pencegah penyalahgunaan narkoba. Remaja yang kurang merasa dipahami orang tuanya akan berpaling mencari tempat lain dan paling mudah adalah pada teman sepermainannya. Di sini, mereka akan merasa lebih dipahami dan didengarkan.
Pada beberapa kasus ekstrem, mereka bahkan rela mengikuti tekanan kelompok untuk tetap bisa berada di dalam kelompok yang mampu memahami mereka. Jika tekanan kelompok mengarah pada hal positif, kita akan sangat bersyukur, namun jika tekanan mengarah ada penyalahgunaan narkoba, kita perlu sangat waspada.
Kebiasaan keenam adalah sinergi (synergy). Berdasarkan kelebihan dan kekurangan setiap anggota keluarga, kita bisa membentuk sebuah kesatuan yang lebih kuat. Hal itu mirip dengan perumpamaan sapu lidi yang lebih kuat jika bersama-sama daripada batang lidi sendiri-sendiri. Dalam sinergi, tiap anggota keluarga meyakini perbedaan yang ada di antara anggota merupakan kekuatan dan bukan kelemahan. Sinergi bukan hanya kerja sama tim, melainkan sebuah kerja sama tim yang sangat kreatif. Hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan menjadi ada dalam proses sinergi. Pernikahan sendiri sebenarnya sebuah perwujudan nyata dari sinergi. Orang tua yang tidak sejalan dalam mendidik anak bisa melemahkan sinergi dan hal itu rentan terhadap penyalahgunaan narkoba.
Membangun sinergi dalam keluarga dapat dilakukan melalui hal-hal kecil, seperti meminta anak-anak secara bersama-sama membuat poster keluarga, mencuci mobil bareng, dan membersihkan rumah pada waktu pembantu mudik.
Kebiasaan ketujuh diistilahkan dengan mengasah gergaji (sharpen the saw). Keluarga diharapkan melakukan hal-hal yang bisa membuat keenam kebiasaan tadi terus berlangsung. Janganlah kita seperti orang yang terus memotong pohon dengan gergaji tumpul dan mengatakan tidak ada waktu untuk mengasah gergajinya. Setiap keluarga disarankan untuk selalu melakukan pembaruan. Pembaruan, menurut Covey, sebaiknya dilakukan pada empat area yaitu fisik, sosial emosional, mental, dan spiritual. Misalnya saja dengan olahraga bareng, menentukan sasaran untuk aset finansial dan barang, saling memuji, bersantai bersama, belajar hal-hal baru bersama, saling berbagai cerita atau pengalaman unik, berdoa bersama, dan membuat komitmen baru.
Pola berulang dalam pembaruan bisa menjadi dasar terbentuknya tradisi dalam keluarga. Tradisi keluarga merupakan sebuah cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan perasaan kompak, didukung, dan dipahami anggota keluarga yang lain.
Membangun keluarga seperti itu memang bukan perkara mudah, tapi sangat layak untuk dicoba. Tidak perlu 100% sama. Diharapkan, dengan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan seperti itu, Anda sudah berperan dalam mencegah anggota keluarga kita terkena pengaruh buruk narkoba. Lebih baik cegah sekarang daripada menyesal kemudian.
Penulis : P Bobby Hartanto MPsi Praktisi Quantum Learning dan Pemerhati Masalah Remaja
Disadur: http://mediaindonesia.com
Posted by deddynoer at 10:12 AM
Labels: Tentang Hidoep
2.10.2009
deddynoer: Wasiat RASULULLAH S.A.W Kepada AISYAH
Saiyidatuna 'Aisyah r.'a meriwayatkan :
Rasulullah SAW bersabda "Hai Aisyah, aku berwasiat kepada engkau..
Hendaklah engkau senantiasa mengingat wasiatku ini. Sesungguhnya engkau akan senantiasa di dalam kebajikan selama engkau mengingat wasiatku ini..."
Intisari wasiat Rasulullah s.a.w tersebut dirumuskan seperti berikut: Hai, Aisyah, peliharalah diri engkau. Ketahuilah bahwa sebagian besar daripada kaum engkau (kaum wanita) adalah menjadi kayu api di dalam neraka.
Diantara sebab-sebabnya ialah mereka itu :
(a) Tidak dapat menahan sabar dalam menghadapi kesakitan (kesusahan), tidak sabar apabila ditimpa musibah
(b) Tidak memuji Allah Ta’ala atas kemurahan-Nya, apabila dikaruniakan nikmat dan rahmat tidak bersyukur.
(c) Mengkufurkan nikmat; menganggap nikmat bukan dari Allah
(d) Membanyakkan kata-kata yang sia-sia, banyak bicara Yang tidak bermanfaat.
Wahai, Aisyah, ketahuilah :
(a) Bahwa wanita yang mengingkari kebajikan (kebaikan) yang diberikan oleh suaminya maka amalannya akan digugurkan oleh Allah
(b) Bahwa wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya, maka pada hari kiamat, Allah menjadikan lidahnya tujuh puluh hasta dan dibelitkan di tengkuknya.
(c) Bahwa isteri yang memandang jahat (menuduh atau menaruh sangkaan buruk terhadap suaminya), Allah akan menghapuskan muka dan tubuhnya Pada hari kiamat.
(d) Bahwa isteri yang tidak memenuhi kemauan suami-nya di tempat tidur atau menyusah-kan urusan ini atau mengkhiananti suaminya, akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dengan muka yang hitam, matanya kelabu, ubun-ubunnya terikat kepada dua kakinya di dalam neraka.
(e) Bahwa wanita yang mengerjakan sholat dan berdoa untuk dirinya tetapi tidak untuk suaminya, akan dipukul mukanya dengan sholatnya.
(f ) Bahwa wanita yang dikenakan musibah ke atasnya lalu dia menampar-nampar mukanya atau merobek-robek pakaiannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama dengan Isteri nabi Nuh dan isteri nabi Luth dan tiada harapan mendapat kebajikan syafaat dari siapa pun;
(g) Bahwa wanita yang berzina akan dicambuk dihadapan semua makhluk didepan neraka pada hari kiamat, tiap-tiap perbuatan zina dengan depalan puluh cambuk dari api.
(h) Bahwa isteri yang mengandung ( hamil ) baginya pahala seperti berpuasa pada siang harinya dan mengerjakan qiamul-lail pada malamnya serta pahala berjuang fi sabilillah.
(i) Bahwa isteri yang bersalin ( melahirkan ), bagi tiap-tiap kesakitan yang dideritainya diberi pahala memerdekakan seorang budak. Demikian juga pahalanya setiap kali menyusukan anaknya.
(j) Bahwa wanita apabila bersuami dan bersabar dari menyakiti suaminya, maka diumpamakan dengan titik-titik darah dalam perjuangan fisabilillah.
disadur dari: http://kaisan.multiply.com
Posted by deddynoer at 1:21 PM
Labels: Tentang Hidoep
deddynoer: ISLAM Merupakan Rahmat, Bukan Ancaman
Oleh : Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi
Saya tidak lupa menyebut satu hal yang nantinya menjadi pijakan tema sekarang ini, yaitu rahmat Islam dan rahmat Nabi Islam. Sungguh saya bias merasakan dan melihat rahmat ada pada masyarakat muslim di negeri yang baik ini. Mereka mencintai Allah dan Rasul–Nya, serta mencintai kebenaran yang datang dari Rabb dan Rasul–Nya. Ini adalah keistimewaan yang tiada bandingnya. Sebuah karakter yang sedikit sekali orang yang menghiasi diri dengannya pada masa sekarang ini. Dan memang semakin jauh masa dari masa nubuwwah, maka kebaikan semakin sedikit.
Seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW:
“Artinya : Tidak ada satu masa (yang datang), kecuali masa setelahnya itu lebih buruk darinya, sampai kalian menjumpai Rabb kalian [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, No. 2132]
Maka, saya ucapkan selamat kepada Anda sekalian, atas karakter yang baik ini, ketundukan kepada Allah dan Rasul–Nya. Dan saya tidak mentazkiah (memuji) Anda sekalian dihadapan Alloh Jalla Jalaluhu. Saya ingin menyampaikan sesuatu yang bergejolak dalam dada. Sesuatu ini nampak kontradiktif, akan tetapi merupakan sebuah kebenaran jika dijelaskan dan diterangkan. Hal tersebut tentang Islam adalah rahmat, Rabb kita adalah Ar–Rahim (Maha Penyayang) dan Nabi kita adalah rahmat bagi seluruh alam.
Adapun sisi kontradiktif yang ada dalam benak saya, bahwasanya masalah–masalah di atas termasuk perkara–perkara badahiy yang jelas dan lebih jelas dari matahari pada siang hari. Kemudian tiba–tiba kita harus menjelaskannya lagi sbg wujud pembelaan terhadap Islam, penjelasan atas pemutarbalikkan kenyataan tentang Islam, dan penjelasan terhadap sebuah kondisi saat pandangan terhadap Islam sudah berubah. Tidak disangsikan lagi, ini merupakan sesuatu yang merisaukan hati dan pikiran, kita menyaksikan fakta yang kontradiktif untuk menjelaskan sebuah permasalahan yang sudah diimani, permasalahan yang kelas, yaitu agama ini (Islam) adalah rahmat Allah Maha Penyayang dan Nabi Kita Muhammad Shalallohu 'alaihi wa sallam juga seorang penyayang. Karenanya, saya memohon kepada Allah agar berkenan menolong kita dalam memahami makna ini dan mengamalkannya.
Nash–nash dari Al–Qur’an dan Sunnah Nabbawiyah yang menguatkan topik ini dan memantapkan penjelas ini sangatlah banyak, tidak terhitung jumlahnya. Akan tetapi, kita harus menyebutkan sebagian, agar hati menjadi tenang dalam kebenaran. Dan akal pikiran serta jiwa merasa bahagia dengan hidayah. Nash yang paling agung yaitu, Allah mensifati diri–Nya sendiri bahwa Dia Dzat Yang Maha Penyayang. Sifat dengan nama ini, banyak terdapat di dalam Al–Qur’an. Cukuplah bagi Anda, sebuah nash yang Anda baca berulang kali dalam shalat sehari semalam sebanyak lebih dari sepuluh kali, agar pemahaman terhadap makna ini tertanam dan tertancap dalam hati dan perasaan Allah ‘Azza Wa Jala berfirman:
"Artinya : Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [Al–Fatihah : 1–3]
Anda mengulanginya pada tiap raka’at, saat membaca basmalah dan membaca ayat kedua (dari sura Al–Fatihah), sehingga gambaran makna ini dan juga realisasinya, baik secara ilmiah atau amaliah bisa dilakukan (secara bersamaan) dalam satu waktu.
Allah juga mensifati Nabi–Nya Shalallohu 'alaihi wa sallam dengan sifat rahim (penyayang) itu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
"Artinya : Nabi Muhammad amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang–orang mu’min" [At–Taubah : 128]
Nabi kita rahim (penyayang), sebagaimana juga Rabb kita Rahim (Maha Penyayang). Akan tetapi, rahim (kasing sayang) nya Nabi Shallallohu 'alaihi Wa Sallaam penghulu seluruh Nabi Adam, sesuai dengan kebesaran beliau Shallallohu 'alaihi wa sallam dan sifat kemanusiaannya. Sedangkan Rahim (penyayang) nya Allah sesuai dengan keagungan–Nya dan kesempurnaan–Nya. Jadi rahmat (kasih sayang) merupakan sifat Allah dan sifat Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam. Allah dan Rasul–Nya menginginkan agar rahmat ini menjadi nyata di muka bumi. Karena din (agama) ini merupakan din rahmat Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
"Artinya : Dan kami tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". [Al–Anbiya : 107]
Allah tidak akan mengatakan “… sebagai rahmat bagi kaum Mukminin, “namun Allah mengatakan : “rahmat bagi seluruh alam,” bukan hanya manusia ; bahkan rahmat ini terasa juga pada alam lain, yaitu alam jin dan malaikat. Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan tentang dirinya:
"Artinya : Aku adalah rahmat yang dihadiahkan".
Banyak nash dari Nabi Shalallohu 'alaihi wa sallam yang menegaskan kepada kaum mukminin, kaum yang menyambut seruan Alloh dan Rasul–Nya, yang mengimani hukum Allah dan Rasul–Nya, agar menjadi orang–orang yang memiliki rasa kasih saying dan saling menyayangi, sehingga mereka akan disayangi oleh Allah ‘Azza wa Jalla, bukan sekedar rahmat yang berbentuk angan–angan yang diimpikan oleh hati dan dilantunkan oleh lisan. Kalau hanya sekedar itu, maka ini bias dilakukan oleh semua orang. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
"Artinya : Hai Orang–orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa–apa yang tiada kamu kerjakan". [Ash–Shaf : 2-3]
Allah menginginkan kita menjadi orang–orang yang menyayangi dan saling menyayangi, lagi disayangi ; bukan hanya sekedar ucapan, akan tetapi (dibuktikan) dengan amal ; bukan sekedar ungkapan, akan tetapi (diwujudkan) dengan perbuatan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : Orang–orang yang menyayangi akan disayang oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Sayangilah orang yang ada di muka bumi, niscaya Dzat yang ada di atas langit (Allah ‘Azza Wa Jalla) akan menyayangi kalian".
Nabi juga bersabda:
"Artinya : Berbuat kasih sayanglah kalian, pasti kalian akan disayangi". [Hadits Riwayat Imam Ahmad]
Sabda Muhammad Shalallohu 'alaihi wa sallam:
"Artinya : Orang yang tidak memiliki rasa kasih–sayang, tidak akan disayang"[Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim]
Semua nash di atas dan yang lain menegaskan makna rahmat, supaya membumi dalam kehidupan dan sistem yang dilaksanakan ; saling menyayangi satu dengan yang lain, saling berlemah lembut, saling menolong, terutama kepada orang yang diberi taufik oleh Allah, dan diberi petunjuk untuk memeluk Islam dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallohu 'alaihi wa sallam.
Rahmat tidak akan bias diwujudkan secara benar, kecuali dengan ilmu yang bermanfaaat berlandaskan Al–Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun rahmat tanpa dilandasi ilmu, tetapi dilandasi kejahilan, hanyalah sebuah perasaan yang berkutat di dalam dada, terkadang tidak sesuai dengan tempatnya ; menjadi tidak jelas, dan ketidakjelasan ini membuahkan kesalahan besar.
Oleh karena itu Ahlus Sunnah itu berasal dari ahli ilmu, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah :”Ahlus Sunnah adalah orang yang paling tahu tentang Al–Haq (Kebenaran) dan paling sayang terhadap makhluk”.
Rasa kasih sayang ini menuntut kita agar memberikan nasihat kepada orang lain, berlemah lembut kepada mereka, dan menuntut anda agar memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kembali ke jalan Allah sebelum mereka meninggal.
Rasa kasih sayang (rahmat) ini menuntut Anda untuk memiliki rasa kepedulian (terhadap keselamatan makhluk) yang Anda ambil dari sifat Rasulullah Shalallohu 'alaihi wa sallam yang diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada beliau Shalallohu 'alaihi wa sallam yaitu:
"Artinya : ... (Rasulullah) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang–orang mu’min." [At–Taubah : 128]
Semangat ini semestinya diiringi kelembutan dan kasih–sayang, yang merupakan ciri terbesar dan paling agung din (agama) ini, bukan kekasaran dan kekakuan, tidak dibarengi sikap ekstrim atau sikap berlebihan, tetapi dengan kelembutan yang menjadi symbol agama ini.
Agar tidak ada orang yang berprasangka dan menduga bahwa rahmat (rasa kasih–sayang) ini hanya untuk kaum muslimin saja, atau berlaku hanya dikalangan kaum muslimin (saja), sehingga menyeretnya kepada kebatilan, maka saya perlu menyebutkan beberapa nash dari hadits Nabi yang menerangkan rahmat ini dan cakupannya. Rahmat ini bukan hanya bagi kaum Muslimin saja, akan tetapi juga bagi orang–orang kafir ; bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk bangsan hewan sekalipun.
Nabi Muhammad Shallallohu 'alaihi wa sallam adalah pemimpin para da’i (mubaligh) dan pemimpin orang–orang yang bersabar terhadap berbagai macam siksa dan cercaan. Beliau Shalallohu 'alaihi wa sallam bersabar menghadapi permusuhan dan penyiksaan, serta mendoakan kebaikan atas pelakunya. Ketika orang–orang kafir dahulu melukai kepala beliau Shallallohu 'alaihi wa sallam, membuat beliau mengeluarkan darah, dan saat mereka mematahkan gigi beliau Shallallohu 'alaihi wa sallam, Nabi Shalallohu 'alaihi wa sallam tidak berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberikan balasan buruk kepada mereka, tetapi beliau Shallallohu 'alaihi wa sallam hanya menginginkan rahmat buat mereka, karena beliau adalah rahmat. Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam berdoa saat itu:
"Artinya : Ya Allah. Ampunilah kaumku, karena mereka itu tidak mengetahui" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]
Padahal beliau Shallallohu 'alaihi wa sallam disiksa dan disakiti oleh mereka. Bahkan Rasulullah Shalallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : Tidak ada seorang pun yang disakiti di jalan Allah sebagaimana (sebesar) gangguan yang menimpaku"
Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam dengan kesabarannya mengatakan:
"Artinya : Semoga Allah mengeluarkan kaum yang mentauhidkan Allah dari tulang punggung (keturunan) mereka"
Kesabaran beliau Shalallohu 'alaihi wa sallam berperan besar dalam penyebaran din Islam, menempati andil besar dalam membimbing umat melalui amal nyata, bukan sekedar teori sebagaimana yang dikatakan pada masa ini. Bahkan, Nabi Shallallohu 'alaihi wa sallam rahim (memiliki rasa saying) dalam situasi peperangan dan sedang berhadapan dengan para musuh Islam. Peperangan dalam Islam bukanlah perang permusuhan, akan tetapi perang penebusan ; peperangan untuk menebarkan sendi–sendi kasih sayang. Membunuh musuh bukanlah tujuan utama dan pertama, akan tetapi itu merupakan pilihan terakhir. Tawaran pertama adalah memeluk agama Islam, kedua adalah membayar jizyah (pembayaran sebagai ganti jaminan keamanan), dan ketiga adalah tidak mengganggu kaum Muslimin. Jika orang–orang kafir tidak mempedulikannya, tetap mengganggu dan menyakiti kaum muslimin, maka mereka harus diperangi, dan ini pun harus dengan perintah dari penguasa dan para ulama yang saling bahu membahu dalam menolong din Allah ini. Tetapi, kalau yang berinisiatif mengobarkan peperangan adalah individu–individu, maka perlu dimengerti, bahwa masalah memobilisasi perang bukanlah hak perindividu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
"Artinya : Dan perangilah di jalan Allah orang–orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kami melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang–orang yang melampaui batas" [Al–Baqarah : 190]
Inilah sendi–sendi din Islam dalam keadaan damai maupun perang, juga ketika sedang berhadapan dengan musuh. Nabi Shallallohu 'alaihi wa sallam senantiasa mengarahkan para komandan supaya berbuat rahmat (kasih sayang) dan menuju rahmat (kasih sayang) dan menuju rahmat (kasih sayang). Rasulullah Shalallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : Janganlah kalian membunuh anak kecil, orang yang sudah renta, jangan membunuh para rahib di gereja, dan janganlah kalian mematahkan pepohonan"
Allohu Akbar !!! inilah akhlak Rasulullah Shalallohu 'alaihi wa sallaam, inilah karakter beliau Shallallohu 'alaihi wa sallaam. Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah melakukan pembunuhan membabi buta, apa lagi menjadi tujuan, atau menjadi sesuatu yang digemari atau yang beliau perintahkan ?
Pembunuhan dengan membabi buta tidak pernah diridhai oleh Rabb kita dan Rasul kita Muhammad Shalallohu 'alaihi wa sallam. Bagaimana mungkin meridhai ; Pembunuhan dengan membabi buta, hanya akan mendatangkan masalah dan tertumpahnya darah yang sangat di sesalkan hati nurani manusia, apa lagi oleh Allah dan Rasullulah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dengan akhlak dan sendi-sendi ini, Islam mendapatkan keutamaan, Islam menjadi yang terdepan dalam memiliki peran dalam menancapkan pondasi, atas apa yang mereka sebut menyuarakan hak-hak asasi manusia dan yang mereka sebut hak-hak asasi hewan. Sebelum ilmu pengetahuan mengalami kemajuan, sebelum peradaban barat, dan sebelum sarana komunikasi mengalami perkembangan yang saat ini di rasakan oleh berbagai belahan dunia, Islam terlebih dahulu menyuarakan hak-hak manusia dan hak-hak hewan.bagaimanapun mereka berusaha mendahului, berusaha mengunggulkan peradaban mereka dan berusaha merealisasikan makna-makna dan ajaran ajaranini,maka islam tetap yang terdepan.
Islam terdepan dalam menanamkan sendi-sendi yang luhur, dan selanjutnya merealisasikanya dalam kehidupan nyata, dalam sejarah masa lalunya, sekarang ini dan pada masa yang akan datang, Insya Allah. Bukankah Rasullulah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian berbuat baik kepada segala sesuatu. Jika kalian membunuh (melaksanakan hukum Qishash) maka perbaikilah cara pelaksanaanya.Jika kalian melakukan penyembelihan hewan,maka berbuat baiklah dalam penyembelihan. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan binatang sembelihanya." [Hadits Riwayat Imam Tirmidzi, Imam Nasa'i , Abu Dawud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad]
Inilah akhlak yang di tampilkan dalam mu’amalah seorang muslim, mu’amalahdalam Islam, hingga dalam hal pemotongan hewan. Lalu bagaimana dengan mu’amalah dengan manusia yang di terangkan sifatnya oleh Allah:
"Artinya : Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak–anak Adam". [Al-Israa’ : 70]
Dengan apa Allah memuliakan mereka ? Dengan apa Allah mengunggulkan mereka ? Tidak lain, kecuali dengan menunjukkan mereka kepada diri Allah yang haq, memberikan petunjuk kepada mereka agar menjadi da’i menuju jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga mereka menjadi orang yang shahih dan mengadakan perbaikan bagi yang lain. Ini merupakan penghargaan yang teramat tinggi. Ini pulalah yang masih banyak, bahkan kebanyak hilang dari manusia, kecuali manusia mau bertaubat kepada Allah. Dan ini, jika Allah tidak memberikan petunjuk, maka tidak akan ada yang memberikan petunjuk selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Supaya gambaran ini menjadi sempurna dan kebenaran menjadi jelas, saya perlu mengingatkan, bahwa makna rahmat (kasih–sayang) dan lemah lembut tidaklah bertentangan dengan ‘izzah (keperkasaan) seorang muslim. Rasa kasih–sayang seorang muslim tidak boleh menyebabkan tunduk, kecuali kepada al haq (kebenaran) dan (tidak boleh) merendahkan diri, kecuali kepada Muslimin. Rasa kasih–sayang memiliki tempat tersendiri, begitu juga dengan ’izzah. Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : Ada tiga hal, barangsiapa memiliki ketiga hal ini, maka dia akan merasakan manisnya iman … (lalu beliau Shalallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan, salah satunya yaitu) …. Tidak mau kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran sebagaimana dia tidak mau dicampakkan ke dalam api" [Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim]
Ini termasuk ‘izzah seorang muslim dengan keimanannya, tidak tunduk kepada selain Allah ‘Azza Wa Jalaa. Dan Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
"Artinya : Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, daripada seorang mukmin yang lemah. Dan masing–masing memiliki kebaikan. Masing mendapatkan kebaikan sesuai dengan kekuatan (yang dimilikinya)".
Jadi kekuatan, perasaan tinggi, merasa perkasa, (itu) memiliki tempat tersendiri. Sama sekalit tidak bertentangan dengan ketundukan seorang muslim kepada Rabb–Nya, bukan tunduk kepada musuhnya. Sifat kasih–sayang ini tidak bertentangan dengan perintah Allah kepada Nabi–Nya:
"Artinya : Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik ,dan bersikap keraslah terhadap mereka.tempat mereka adalah neraka jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali" [At-Tahrim :9]
Juga tidak bertentangan dengan sifat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kaum mukminin, bahwa mereka itu:
"Artinya : Muhamad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir". [Al-Fath:29]
Ketegasan sikap yang terhadap dalam firman Allah memilki saat dan tempat tersendiri sebagaimana telah di jelaskan di muka, bahwa tempatnya adalah pada urutan ketiga, bukan urutan pertama.karena orang yang tidak mau menerimaajakan masuk islam,pada tahapan pertama;dan tidak menghiraukan peringatan, urutan kedua;berarti dia adalah orang yang enggan menerima kebenaran dan berlaku semena-mena terhadap makhluk,maka dia berhak mendapatkan sikap keras ini. Dan dalam sikap keras terhadap pelajaran bagi orang-orang yang lain. Bukankah Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Artinya : Maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran" [Al-Anfal : 57]
Begitulah, sikap keras ini juga mengandung pembelajaran tentang rahmat(kasih-sayang),supaya orang-orang yang sombong itu berhenti dari kesombongannya.karena pelajaranbagi mereka sudah cukup untuk mendidik jiwa.
Untuk memperjelas, saya bawakan permisalan,dan permisalan yang paling tinggi hanyalah milik Allah.Tidakkah anda perhatikan, saat Anda mengajari anak Anda dan mendidiknya; jika ia gagal, Anda membirikan peringatan. jika dia tetap dalam keadaannya,maka anda akan memukulnya.
Ya, itu memang sebuah pemukulan yang menyakitkan,akan tetapi, (hal) itu untuk tujuan pendidikan, bukan pukulan yang mengandung dendam, tetapi, sebuah pukulan yang mengandung kebaikan. Begitu pula sikap keras dalam islam, dia memilikisaat dan tempat tersendiri yang mengandung kasih saying dan sebagi realisasi dari firman Allah:
"Artinya : Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" [Al-Anbiya :107]
Akhirnya, saya memohon kepada Allah, agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang penyayang dan menjadi orang-orang yang mendapatkan kasih saying, menjadi orang yang mengajak manusia menuju kitab Allah, menjadi orang yang senantiasa mengikuti Sunnah Rasulullah, (menjadi) orang yang berpegang teguh dengan tali Allah, menjadi orang yang tanduk kepada tauhidnya.Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untukmelakukan itu semua.
Washallahu’ala NabiyinaMuhammad wa’ala aalihi wa shahbihi ajma’in.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/1426. Diambil dari Muhadharah Syaikh Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi, di Masjid Istiqlal Jakarta, Ahad 19 Februari 2006 dan disadur dari: http://www.almanhaj.or.id]
Posted by deddynoer at 12:43 PM
Labels: Tentang Hidoep
2.04.2009
deddynoer: How To Tell If He Likes You
(and if he's flirting with you in his special own guy-way,..
A lot depends on the type of guy and his individual personality..)
These are tough to crack sometimes...
- He'll look at you, until you turn around, then boom, he's looking the other way.
- You may 'feel' like he's watching you - but he's hard to catch at it
- He may do something physical - like grab you in a play way, poke you, play with your hair...
- (Remember when you were really young and the guy you liked punched you or tackled you?)
- He may be working really hard to pay attention to you, but doesn't quite know how...
- He may ask a friend of yours about you - he'll say it's just for "friend of mine" that wants to know about you.
- He talks to everybody else - but when you're around he turns silent, or chokes up.
- You seem to accidentally bump into him a lot of different places.
- He may not say a word to you, but he shows up in the same line, at the same movie, etc.
- He'll give you a little smile from across the room, but if you get near, he won't look up.
- Basically - the BIG clue is that his behavior changes when you're around (compared to when he's around his buds or other girls).
- DEAD Giveaway - when you talk to him he turns red.
Bingo....!! you can pack that puppy up and take him home...)
Read More......
Posted by deddynoer at 1:55 PM
Labels: Blog In English, Tentang Hidoep
deddynoer: How to Tell If She Likes You
- Her crossed leg is pointed towards you or if that same leg is rocking back and forth towards you.
- She raises or lowers the volume of her voice to match yours.
- She rubs her chin or touches her cheek. This indicates that she's thinking about you and her relating in some way...
- She winks at you while talking to you or winks at you from a distance.
- She exposes the palms of her hand facing you.
- Her crossed leg is pointed towards you or if that same leg is rocking back and forth towards you.
- She raises or lowers the volume of her voice to match yours.
- She rubs her chin or touches her cheek. This indicates that she's thinking about you and her relating in some way...
- She winks at you while talking to you or winks at you from a distance.
- She exposes the palms of her hand facing you.
- Biting of the lips or showing of the tongue, licking her lips or touching of her front teeth....
- She starts sitting straight up and her muscles appear to be firm.
- She puts her fingernail between her teeth.
- She laughs in unison with you.
- She touches your arm, shoulder, thigh, or hand while talking to you.
- Plays with her jewelry, especially with stroking and pulling motions.
- She twirls her hair around her fingers while she is looking at you.
- Eyebrows raised and then lowered, then a smile usually indicates interest in you.
- While talking to you, she rests an elbow in the palm of one hand, while holding out her other hand, palm up.
- In a crowd she speaks only to you and focuses all of her undivided attention on you.
- While talking to you, she blinks more than usual, fluttering her eyelashes.
- Big smiles with upper and lower teeth showing with a relaxed face.
- She speeds up or slows down her speaking to match yours.
- She rubs her wrists up and down.
Read More......
Posted by deddynoer at 1:48 PM
Labels: Blog In English, Tentang Hidoep
2.03.2009
deddynoer: Tentang Jilbab, Sebuah Renungan
Wahai saudariku,
Kembalilah!
Kembalilah dalam ketaatan sebelum terlambat!
Kematian bisa datang kapan saja.
Bukankah kita ingin meninggal dalam ketaatan?
Bukankah kita tidak ingin meninggal dalam keadaan bermaksiat?
Bukankah kita mengetahui bahwa Allah mengharamkan bau surga bagi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?
Berpakaian tapi tidak sesuai dengan syariat maka itu hakekatnya berpakaian tetapi telanjang!
Tidakkah kita rindu dengan surga?
Bagaimana bisa masuk jika mencium baunya saja tidak bisa?
Saudariku,
Apalagi yang menghalangi kita dari syari’at yang mulia ini?
Kesenangan apa yang kita dapat dengan keluar dari syari’at ini?
Kesenangan yang kita dapat hanya bagian dari kesenangan dunia.
Lalu apalah artinya kesenangan itu jika tebusannya adalah diharamkannya surga (bahkan baunya) untuk kita?
Duhai…
Apa yang hendak kita cari dari kampung dunia?
Apalah artinya jika dibanding dengan kampung akhirat?
Mana yang hendak kita cari?
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga Allah menjadikan hati kita tunduk dan patuh pada apa yang Allah syariatkan. Dan bersegera padanya…
Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.
Lalu jilbab seperti apa yang Allah maksudkan?
Jilbab kan modelnya banyak…
*Semoga Allah memberi hidayah padaku dan pada kalian untuk berada di atas ketaatan dan istiqomah diatasnya*
Iya, saudariku..
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui jilbab seperti apa yang Allah maksudkan dalam perintah tersebut supaya kita tidak salah sangka.
Sebagaimana kita ingin melakukan sholat subuh seperti apa yang Allah maksud, tentunya kita juga ingin berjilbab seperti yang Allah maksud.
“Ya… terserah saya! Mau sholat subuh dua rokaat atau tiga rokaat yang penting kan saya sholat subuh!”
“Ya… terserah saya! Mau pake jilbab model apa, yang penting kan saya pake jilbab!”
Mmm…
Tidak seperti ini kan?
Pembahasan mengenai hal ini ada sebuah buku yang bagus untuk dijadikan rujukan karena di dalamnya memuat dalil-dalil yang kuat dari Al Quran dan As Sunnah, yaitu Jilbab al Mar’ah al Muslimah fil Kitabi wa Sunnah yang ditulis oleh Muhammad Nasiruddin Al Albani. Buku ini telah banyak diterjemahkan dengan judul Jilbab Wanita Muslimah.
Adapun secara ringkas, jilbab wanita muslimah mempunyai beberapa persyaratan, yaitu:
1. Menutup seluruh badan
Adapun wajah dan telapak tangan maka para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama menyatakan wajib untuk ditutup dan sebagian lagi sunnah jika ditutup. Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albani dalam buku di atas mengambil pendapat sunnah. Masing-masing pendapat berpijak pada dalil sehingga kita harus bisa bersikap bijak. Yang mengambil pendapat sunnah maka tidak selayaknya memandang saudara kita yang mengambil pendapat wajib sebagai orang yang ekstrim, berlebih-lebihan atau sok-sokan karena pendapat mereka berpijak pada dalil. Adapun yang mengambil pendapat wajib maka tidak selayaknya pula memandang saudara kita yang mengambil pendapat sunnah sebagai orang yang bersikap meremehkan dan menyepelekan sehingga meragukan kesungguhan mereka dalam bertakwa dan berittiba’ (mengikuti) sunnah nabi. Pendapat mereka juga berpijak pada dalil.
*Semoga Allah menjadikan hati-hati kita bersatu dan bersih dari sifat dengki, hasad, dan merasa lebih baik dari orang lain*
2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan
3. Kainnya harus tebal dan tidak tipis
4. Harus longgar, tidak ketat, sehingga tidak dapat menggambarkan bentuk tubuh
5. Tidak diberi wewangian atau parfum
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki
7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
8. Bukan libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas)
“BERAT! Rambutku kan bagus! Kenapa harus ditutup? Lagi pula kalau ditutup bisa pengap, nanti kalau jadi rontok gimana?”
“RIWEUH! Harus pakai kaus kaki terus. Kaus kaki kan cepet kotor, males nyucinya!”
“Baju yang kaya laki-laki ini kan baju kesayanganku! Ini style ku! Kalau pake rok jadi kaya orang lain. I want to be my self! Kalau pakai bajunya cewek RIBET! Gak praktis dan gak bisa leluasa!”
Saudariku,
Sesungguhnya setan tidak akan membiarkan begitu saja ketika kita hendak melakukan ketaatan kecuali dia akan membisikkan kepada kita ketakutan dan keragu-raguan sehingga kita mengurungkan niat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menjadikanku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka, belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka, sehingga Engkau akan mendapati kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (Qs. Al A’raf: 16-17)
Ibnu Qoyyim berkata “Apabila seseorang melakukan ketaatan kepada Allah, maka setan akan berusaha melemahkan semangatnya, merintangi, memalingkan, dan membuat dia menunda-nunda melaksanakan ketaatan tersebut. Apabila seorang melakukan kemaksiatan, maka setan akan membantu dan memanjangkan angan dan keinginannya.”
Mungkin setan membisikkan :
“Dengan memakai jilbab, maka engkau tidak lagi terlihat cantik!”
Sebentar!
Apa definisi cantik yang dimaksud?
Apa dengan dikatakan “wah…”, banyak pengagum dan banyak yang nggodain ketika kita jalan maka itu dikatakan cantik? Sungguh! Kecantikan iman itu mengalahkan kecantikan fisik.
Mari kita lihat bagaimana istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shohabiyah!
Apa yang menyebabkan mereka menduduki tempat yang mulia?
Bukan karena penampilan dan kecantikan, tetapi karena apa yang ada di dalam dada-dada mereka. Tidakkah kita ingin berhias sebagaimana mereka berhias? Sibuk menghiasi diri dengan iman dan amal sholeh.
Wahai saudariku,
Seandainya fisik adalah segala-galanya, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memilih wanta-wanita yang muda belia untuk beliau jadikan istri. Namun kenyataannya, istri-istri nabi adalah janda kecuali Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Atau… mungkin setan membisikkan :
“Dengan jilbab akan terasa panas dan gerah!”
Wahai saudariku,
Panasnya dunia tidak sebanding dengan panasnya api neraka. Bersabar terhadapnya jauh lebih mudah dari pada bersabar terhadap panasnya neraka. Tidakkah kita takut pada panasnya api neraka yang dapat membakar kulit kita? Kulit yang kita khawatirkan tentang jerawatnya, tentang komedonya, tentang hitamnya, tentang tidak halusnya?
Wahai saudariku,
Ketahuilah bahwa ketaatan kepada Allah akan mendatangkan kesejukan di hati. Jika hati sudah merasa sejuk, apalah arti beberapa tetes keringat yang ada di dahi. Tidak akan merasa kepanasan karena apa yang dirasakan di hati mengalahkan apa yang dialami oleh badan.
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah memudahkan nafsu kita untuk tunduk dan patuh kepada syariat.
“Riweh pake kaus kaki.”
“Ribet pake baju cewek.”
“Panas! Gerah!”
Saudariku…
Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan meski nafsu kita membencinya. Setiap ketaatan yang kita lakukan dengan ikhlas, tidak akan pernah sia-sia. Allah akan membalasnya dan ini adalah janji Allah dan janji-Nya adalah haq.
“Celana bermerk kesayanganku bagaimana?”
“Baju sempit itu?”
“Minyak wangiku?”
Saudariku…
Semoga Allah memudahkan kita untuk meninggalkan apa saja yang Allah larang meski nafsu kita menyukainya. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Semoga Allah memudahkan kita untuk bersegera dalam ketaatan. Meneladani para shohabiyah ketika syariat ini turun, mereka tidak berfikir panjang untuk segera menutup tubuh mereka dengan kain yang ada.
Saudariku,
Jadi bukan melulu soal penampilan!
Bahkan memamerkan dengan menerjang aturan Robb yang telah menciptakan kita.
Tetapi…
Mari kita sibukkan diri berhias dengan kecantikan iman.
Berhias dengan ilmu dan amal sholeh. Berhias dengan akhlak yang mulia.
Hiasi diri kita dengan rasa malu!
Tutupi aurat kita! Jangan pamerkan!
Jagalah sebagaimana kita menjaga barang berharga yang sangat kita sayangi.
Simpanlah kecantikannya. Simpan supaya tidak sembarang orang bisa menikmatinya!
Simpan untuk suami saja. Niscaya ini akan menjadi kado yang sangat istimewa untuknya.
Saudariku,
Peringatan itu hanya bermanfaat bagi orang yang mau mengikuti peringatan dan takut pada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Robb Yang Maha Pemurah walau dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 11)
Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mau mengikuti peringatan. Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang takut pada Robb Yang Maha Pemurah walau kita tidak melihat-Nya,
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
Kita berlindung pada Allah dari hati yang keras dan tidak mau mengikuti peringatan. Kita berlindung pada Allah, Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang Allah firmankan dalam QS. Yasin: 10 (yang artinya):
“Sama saja bagi mereka apakah kami memberi peringatan kepada mereka ataukah kami tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” (QS. Yasin: 10)
Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Subkhan Khadafi
Artikel www.muslimah.or.id
Posted by deddynoer at 5:03 PM
Labels: Tentang Hidoep
deddynoer: Menyanggah Penafsiran yg Merendahkan Wanita
Oleh: Dr. Yusuf Qardhawi
PERTANYAAN :
Siapakah yang dimaksud dengan sufaha dalam firman Allah:
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (sufaha) harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.
Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik." (an-Nisa' 5)
Majalah al-Ummah nomor 49 memuat artikel Saudari Hanan Liham, yang mengutip keterangan Ibnu Katsir dari pakar umat dan penerjemah Al-Qur'an, Abdullah Ibnu Abbas, bahwa as-sufaha (orang-orang yang belum sempurna akalnya) itu ialah "wanita dan anak-anak."
Penulis tersebut menyangkal penafsiran itu, meskipun diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Menurutnya, penafsiran tersebut jauh dari kebenaran, sebab wanita secara umum disifati sebagai tidak sempurna akalnya/bodoh (salah), padahal diantara kaum wanita itu terdapat orang-orang seperti Khadijah, Ummu Salamah, dan Aisyah dari kalangan istri Nabi dan wanita-wanita salihah lainnya.
Sebagian teman ada yang mengirim surat kepada saya untuk menanyakan penafsiran yang disebutkan Ibnu Katsir tersebut. Apakah itu benar?
JAWABAN :
Penafsiran kata sufaha dalam ayat tersebut dengan pengertian yang dimaksud adalah kaum wanita secara khusus, atau wanita dan anak-anak, adalah penafsiran yang lemah, meskipun
diriwayatkan dari pakar umat, yaitu Ibnu Abbas r.a., walaupun sahih penisbatan kepadanya atau kepada penafsiran-penafsiran salaf lainnya.
Kebenaran yang menjadi pegangan mayoritas umat ialah bahwa penafsiran sahabat terhadap Al-Qur'anul Karim itu tidak secara otomatis menjadi hujjah bagi dirinya dan mengikat terhadap yang lain. Ia tidak dihukumi sebagai hadits marfu', walaupun sebagian ahli hadits ada yang beranggapan demikian. Ia hanya merupakan buah pikiran dan ijtihad pelakunya, yang kelak akan mendapatkan pahala meskipun keliru.
Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas sendiri dan dari sebagian sahabat-sahabatnya bahwa "Tiap-tiap orang boleh diterima dan ditolak perkataannya, kecuali Nabi saw. (yang wajib diterima perkataannya)."
Doa Nabi saw untuk Ibnu Abbas agar Allah mengajarinya takwil, tidak berarti bahwa Allah memberinya kemaksumam (terpelihara dari kesalahan) dalam takwil yang dilakukannya,
tetapi makna doa itu ialah Allah memberinya taufik untuk memperoleh kebenaran dalam sebagian besar takwilnya, bukan seluruhnya.
Karena itu, tidak mengherankan kalau ada beberapa pendapat dan ijtihad Ibnu Abbas mengenai tafsir dan fiqih yang tidak disetujui oleh mayoritas sahabat dan umat sesudah mereka. Kelemahan takwil yang dikemukakan Ibnu Abbas dan orang yang mengikutinya bahwa yang dimaksud dengan as-sufaha (orang-orang yang belum sempurna akalnya) adalah wanita atau
wanita dan anak-anak, tampak nyata dari beberapa segi.
Pertama, bahwa lafal sufaha adalah bentuk jamak taksir untuk isim mudzakkar (laki-laki), mufradnya (bentuk tunggalnya) adalah safiihu, bukan safiihatu yang merupakan isim muannats
(perempuan). Kalau mufradnya safiihatu, maka bentuk jamaknya adalah mengikuti wazan fa'iilatu atau fa'aa'ilu sebagaimana lazimnya jamak muannats, sehingga bentuk jamak lafal
tersebut adalah safiihaatu atau safaa'ihu.
Kedua, bahwa kata sufaha adalah isim zaman (kata untuk mencela), karena mengandung arti kekurangsempurnaan akal dan buruk tindakannya. Karena itu, kata-kata ini tidak disebutkan dalam Antara lain Qur'an melainkan untuk menunjukkan celaan, seperti dalam firman Allah;
"Apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman,' mereka menjawab, 'Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?' Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu." (al-Baqarah: 13)
"Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata, 'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?' Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.'" (al-Baqarah: 142)
Apabila lafal sufaha itu untuk mencela, maka bagaimanakah manusia akan dicela karena sesuatu yang tidak ia usahakan? Bagaimana seorang perempuan akan dicela karena semata-mata ia perempuan, padahal ia bukan yang menciptakan dirinya, melainkan ia diciptakan oleh Penciptanya? Allah berfirman:
"... sebagian kamu adalah turunan dan sebagian yang lain ..." (Ali Imran: 195)
Dan disebutkan dalam suatu hadits:
"Sesungguhnya wanita adalah belahan (mitra) laki-laki." (HR. Ahmad bin Hanbal 6:256 dan Baihaqi I:168. Disebutkan pula dalam Kanzul 'Ummal nomor 45559)
Demikian pula halnya anak-anak. Allah menciptakan manusia dari kondisi yang lemah dan dijadikan-Nya kehidupan itu bertahap, dari bayi berkembang menjadi kanak-kanak, kemudian
meningkat remaja, lalu dewasa. Sebab itu, bagaimana mungkin seorang anak akan dicela karena ia masih kanak-kanak padahal ia tidak pernah berusaha untuk menjadi kanak-kanak (melainkan sudah merupakan proses yang ditetapkan Allah)?
Kalau kita kembali kepada tafsir-tafsir modern, akan kita dapati semuanya menguatkan pendapat Syekhul Mufassirin, Imam ath-Thabari. Dalam tafsir al-Manar karya Sayid Rasyid Ridha disebutkan:
"Yang dimaksud dengan as-sufaha disini ialah orang-orang yang pemboros yang menghambur-hamburkan hartanya untuk sesuatu yang tidak perlu dan tidak seyogyanya, dan membelanjakannya dengan cara yang buruk dan tidak berusaha mengembangkannya."
Beliau (Rasyid Ridha) juga mengemukakan perbedaan pendapat di kalangan salaf mengenai maksud lafal sufaha. Kemudian beliau menguatkan pendapat yang dipilih Ibnu Jarir (ath-Thabari) bahwa ayat itu bersifat umum, meliputi semua orang yang kurang akal, baik masih kanak-kanak maupun sudah dewasa, laki-laki maupun perempuan.
Ustadz al-Imam (Muhammad Abduh) berkata, "Dalam ayat-ayat terdahulu Allah menyuruh kita memberikan kepada anak-anak yatim harta-harta mereka dan memberikan kepada orang-orang perempuan akan mahar mereka. Dalam firman-Nya:
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu)..."(an-Nisa': 5)
Al-Imam mensyaratkan kedua hal di atas. Artinya, berikanlah kepada setiap anak yatim akan hartanya bila telah dewasa, dan berikan kepada tiap-tiap perempuan akan maharnya, kecuali apabila salah satunya belum sempurna akalnya sehingga tidak dapat menggunakan hartanya dengan baik. Pada kondisi demikian kamu dilarang memberikan harta kepadanya agar tidak disia-siakannya, dan kamu wajib memelihara hartanya itu sehingga ia dewasa.
Perkataan amwaalakum (hartamu) bukan amwaalahum (harta mereka) , yang berarti firman itu ditujukan kepada para wali, sedangkan harta itu milik as-sufaha yang ada didalam kekuasaan mereka, menunjukkan beberapa hal. Pertama, bahwa apabila harta itu habis dan tidak ada sisanya bagi si safih (anak yang belum/kurang sempurna akalnya) untuk memenuhi kebutuhannya, maka wajib bagi si wali untuk memberinya nafkah dari hartanya sendiri. Dengan demikian, habisnya harta si safih menyebabkan ikut habis (berkurang) pula harta si wali. Alhasil, harta si safih itu seakan-akan hartanya sendiri.
Kedua, bahwa apabila as-sufaha itu telah dewasa dan harta mereka masih terpelihara, lantas mereka dapat menggunakannya sebagaimana layaknya orang dewasa (normal), dan dapat
menginfakkannya sesuai dengan tuntunan syariat untuk kemaslahatan umum atau khusus, maka para wali itu juga mendapatkan bagian pahalanya.
Ketiga, kesetiakawanan sosial dan menjadikan kemaslahatan dari masing-masing pribadi bagi yang lain, sebagaimana telah kami katakan dalam membicarakan ayat-ayat yang lain." (Tafsir al-Manar 4: 379-380)
Posted by deddynoer at 4:51 PM
Labels: Tentang Hidoep
deddnoer: Yang Boleh Dikerjakan Oleh Wanita
Oleh: Dr. Yusuf Qardhawi
PERTANYAAN :
Bagaimana hukum wanita bekeria menurut syara'? Maksudnya: bekerja di luar rumah seperti laki-laki. Apakah dia boleh bekerja dan ikut andil dalam produksi, pembangunan, dan kegiatan kemasyarakatan? Ataukah dia harus terus-menerus menjadi tawanan dalam rumah, tidak boleh melakukan aktivitas apa pun? Sementara kami sering mendengar bahwa agama Islam memuliakan wanita dan memberikan hak-hak kemanusiaan kepadanya jauh beberapa abad sebelum bangsa Barat mengenalnya. Apakah aktivitas yang ia lakukan itu tidak dapat dianggap sebagai haknya yang akan menjernihkan air mukanya, sekaligus dapat menjaga kehormatannya agar tidak menjadi barang dagangan yang diperjualbelikan seenaknya ketika dibutuhkan atau dikurbankan ketika darurat?
Mengapa wanita (muslimah) tidak boleh terjun ke kancah kehidupan sebagaimana yang dilakukan wanita-wanita Barat, untuk menjernihkan kepribadiannya dan memperoleh hak-haknya, agar dapat mengurus dirinya sendiri, dan ikut andil dalam memajukan masyarakat?
Kami ingin mengetahui batas-batas syariah terhadap aktivitas yang diperbolehkan bagi wanita muslimah, yang bekerja untuk dunianya tanpa merugikan agamanya, lepas dari kekolotan
orang-orang ekstrem yang tidak menghendaki kaum wanita belajar dan bekerja serta keluar rumah walau ke masjid sekalipun. Juga jauh dari orang-orang yang menghendaki agar
wanita muslimah lepas bebas dari segala ikatan sehingga menjadi barang murahan di pasar-pasar.
Kami ingin mengetahui hukum syara' yang benar mengenai masalah ini dengan tidak melebih-lebihkan dan tidak mengurang-ngurangkan.
JAWABAN :
Wanita adalah manusia juga sebagaimana laki-laki. Wanita merupakan bagian dari laki-laki dan laki-laki merupakan bagian dari wanita, sebagaimana dikatakan Al-Qur'an:
"... sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain ..." (Ali Imran: 195}
Manusia merupakan makhluk hidup yang diantara tabiatnya ialah berpikir dan bekerja (melakukan aktivitas). Jika tidak demikian, maka bukanlah dia manusia.
Sesungguhnya Allah Ta'ala menjadikan manusia agar mereka beramal, bahkan Dia tidak menciptakan mereka melainkan untuk menguji siapa diantara mereka yang paling baik amalannya. Oleh karena itu, wanita diberi tugas untuk beramal sebagaimana laki-laki - dan dengan amal yang lebih baik secara khusus - untuk memperoleh pahala dari Allah Azza wa
Jalla sebagaimana laki-laki. Allah SWT berfirman:
"Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), 'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki
maupun perempuan...'" (Ali Imran: 195)
Siapa pun yang beramal baik, mereka akan mendapatkan pahala di akhirat dan balasan yang baik di dunia:
"Barangsiapa yang mengeryakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
(an-Nahl: 97}
Selain itu, wanita - sebagaimana biasa dikatakan - juga merupakan separo dari masyarakat manusia, dan Islam tidak pernah tergambarkan akan mengabaikan separo anggota
masyarakatnya serta menetapkannya beku dan lumpuh, lantas dirampas kehidupannya, dirusak kebaikannya, dan tidak diberi sesuatu pun.
Hanya saja tugas wanita yang pertama dan utama yang tidak diperselisihkan lagi ialah mendidik generasi-generasi baru. Mereka memang disiapkan oleh Allah untuk tugas itu, baik secara fisik maupun mental, dan tugas yang agung ini tidak boleh dilupakan atau diabaikan oleh faktor material dan kultural apa pun. Sebab, tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan peran kaum wanita dalam tugas besarnya ini, yang padanyalah bergantungnya masa depan umat, dan dengannya pula terwujud kekayaan yang paling besar, yaitu kekayaan yang berupa manusia (sumber daya manusia).
Semoga Allah memberi rahmat kepada penyair Sungai Nil, yaitu Hafizh Ibrahim, ketika ia berkata:
Ibu adalah madrasah, lembaga pendidikan Jika Anda mempersiapkannya dengan baik
Maka Anda telah mempersiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.
Diantara aktivitas wanita ialah memelihara rumah tangganya membahagiakan suaminya, dan membentuk keluarga bahagia yang tenteram damai, penuh cinta dan kasih sayang. Hingga
terkenal dalam peribahasa, "Bagusnya pelayanan seorang wanita terhadap suaminya dinilai sebagai jihad fisabilillah."
Namun demikian, tidak berarti bahwa wanita bekerja di luar rumah itu diharamkan syara'. Karena tidak ada seorang pun yang dapat mengharamkan sesuatu tanpa adanya nash syara'
yang sahih periwayatannya dan sharih (jelas) petunjuknya. Selain itu, pada dasarnya segala sesuatu dan semua tindakan itu boleh sebagaimana yang sudah dimaklumi.
Berdasarkan prinsip ini, maka saya katakan bahwa wanita bekerja atau melakukan aktivitas dibolehkan (jaiz). Bahkan kadang-kadang ia dituntut dengan tuntutan sunnah atau wajib
apabila ia membutuhkannya. Misalnya, karena ia seorang janda atau diceraikan suaminya, sedangkan tidak ada orang atau keluarga yang menanggung kebutuhan ekonominya, dan dia
sendiri dapat melakukan suatu usaha untuk mencukupi dirinya dari minta-minta atau menunggu uluran tangan orang lain.
Selain itu, kadang-kadang pihak keluarga membutuhkan wanita untuk bekerja, seperti membantu suaminya, mengasuh anak-anaknya atau saudara-saudaranya yang masih kecil-kecil,
atau membantu ayahnya yang sudah tua - sebagaimana kisah dua orang putri seorang syekh yang sudah lanjut usia yang menggembalakan kambing ayahnya, seperti dalam Al-Qur'an
surat al-Qashash:
"... Kedua wanita itu menjawab, 'Kami tidak dapat meminumi (ternak kami) sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedangkan bapak kami adalah orang
tua yang telah lanjut umurnya.'" (al-Qashash: 23)
Diriwayatkan pula bahwa Asma' binti Abu Bakar - yang mempunyai dua ikat pinggang - biasa membantu suaminya Zubair bin Awwam dalam mengurus kudanya, menumbuk biji-bijian untuk
dimasak, sehingga ia juga sering membawanya di atas kepalanya dari kebun yang jauh dari Madinah.
Masyarakat sendiri kadang-kadang memerlukan pekerjaan wanita, seperti dalam mengobati dan merawat orang-orang wanita, mengajar anak-anak putri, dan kegiatan lain yang memerlukan tenaga khusus wanita. Maka yang utama adalah wanita bermuamalah dengan sesama wanita, bukan dengan laki-laki.
Sedangkan diterimanya (diperkenankannya) laki-laki bekerja pada sektor wanita dalam beberapa hal adalah karena dalam kondisi darurat yang seyogianya dibatasi sesuai dengan
kebutuhan, jangan dijadikan kaidah umum.
Apabila kita memperbolehkan wanita bekerja, maka wajib diikat dengan beberapa syarat, yaitu:
1. Hendaklah pekerjaannya itu sendiri disyariatkan. Artinya, pekerjaan itu tidak haram atau bisa mendatangkan sesuatu yang haram, seperti wanita yang bekerja untuk melayani lelaki bujang, atau wanita menjadi sekretaris khusus bagi seorang direktur yang karena alasan kegiatan mereka sering berkhalwat (berduaan), atau menjadi penari yang merangsang nafsu hanya demi mengeruk keuntungan duniawi, atau bekerja di bar-bar untuk menghidangkan minum-minuman keras - padahal Rasulullah saw. telah melaknat orang yang menuangkannya, membawanya, dan menjualnya. Atau menjadi pramugari di kapal terbang dengan menghidangkan minum-minuman yang memabukkan, bepergian jauh tanpa disertai mahram, bermalam di negeri asing sendirian, atau melakukan aktivitas-aktivitas lain yang diharamkan oleh Islam, baik yang khusus untuk wanita maupun khusus untuk laki-laki, ataupun untuk keduanya.
2. Memenuhi adab wanita muslimah ketika keluar rumah, dalam berpakaian, berjalan, berbicara, dan melakukan gerak-gerik.
"Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) tampak daripadanya ...'" (an-Nur: 31 )
"... dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan ..." (an-Nur: 31 )
"... Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik" (al-Ahzab 32)
3. Janganlah pekerjaan atau tugasnya itu mengabaikan kewajibankewajiban lain yang tidak boleh diabaikan, seperti kewajiban terhadap suaminya atau anak-anaknya yang merupakan kewajiban pertama dan tugas utamanya.
Wabillahi taufiq
Posted by deddynoer at 4:32 PM
Labels: Tentang Hidoep
deddynoer: Kisah Sedih Kehidupan
AND I HOPE WE WILL UNDERSTAND
OUR LIFE AND WHAT FOR WE LIVE!!
25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan.
Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai.
Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku..
Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia...
22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku.
Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, ku namai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi
baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus
bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami.. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin,
suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah...
19 tahun yang lalu,
Kamila-ku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi la! lu dari kursi ke lantai kemudian berteriak 'Horeee... Iya bisa terbang'. Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak jarang berteriak, 'Iya sayaaang,' jika sudah
terdengar suara 'Prang..'. Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca..
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang 'Kenapa semua kaca di
rumah ini selalu pecah, Ma..?'
18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya.
'Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!' tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu ku tunjukkan bola
itu. 'Horee, Iya jadi pemain bola....'
17 Tahun yang lalu,
'Iya.. Iya.. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja..'
'Coba kalau Iya nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini....'
Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah
jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan 'Iyaaaa...'.
Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. 'Ya Tuhan, bagaimana ini...'
Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara
pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Ku lihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata '..Coba kalau kamu tak belikan ia bola!'
15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia...
13 tahun yang lalu,
Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk
SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.
Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku
harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar....
10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya.
Anakku cantik, seperti ibunya. 'Biar cantik kalo kere ya ke laut aje...' Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga.
'Sabar ya, Nak!' hiburku.
'Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu...!' pintanya padaku. Dan aku menangis.
'...Anakku maafkan bapakmu...', hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan
kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP...
7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku.
Sudah bertahun-tahun tak ku dengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia . Sulit baginya mencari pekerjaan di sini
yang cuma lulusan SMP.. Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi?. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan
rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamila-ku baik-baik saja..
4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat ! mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana . Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca
dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa untuk shalat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk shalat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti, setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk maghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga...
3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia , kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamila-ku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta
bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku
hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.
2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah...
Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri.
Ya.. Allah kuatkanlah aku...
Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak.
Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada.. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.
'Bapak..... Iya Takut!' aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.
'Kenapa... Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?'
'Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak.... Iya tidak mau...
Iya dipukulnya... Iya takut.. Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan, Pak!'
Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa... istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.
Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita
itu.
2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya....
Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana . Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan 'blass......!!!' Kamila-ku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis....
Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan oleh mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku... Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis...
Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang ku kenal.
'Kania...???'
'Mas Har, kau ...!!'
'Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!'
'Iya? Dia..dia... Iya?' serunya getir dan dengan tangan yang gemetar menunjuk jenazah anakku.
'Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar...'
'Tidak ... tidaaak ... ' Kania berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris...
Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya 'Terima kasih Mama...'
Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.
Setahun lalu,
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku...? Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir ku dengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan
di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, 'Iya... sayaaang, apalagi yang pecah, Nak..!'
'...Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku..
..................
Read More......
Posted by deddynoer at 1:03 PM
Labels: Tentang Hidoep
2.02.2009
deddynoer: Valentine, apakah itu?
Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine's Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep macam ini diciptakan.
Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan. 
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta. Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, namun jarang kepada teman pria lainnya.
Perayaan Kesuburan bulan Februari
Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulukala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda:
* seorang pastur di Roma
* seorang uskup Interamna (modern Terni)
* seorang martir di provinsi Romawi Africa.
Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.
Valentinius
Guru ilmu gnostisisme yang berpengaruh Valentinius, adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep ... dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: "Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil "penebusan dosa" (apolytrosis) dan "tempat pelaminan" ...".
Era abad pertengahan
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 February adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris Pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (“Percakapan Burung-Burung”) bahwa
For this was sent on Seynt Valentyne's day (“Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)
Whan every foul cometh ther to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”)
Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasanagan mereka "Valentine" mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:
* Sore hari sebelum santo Valentinus akan gugur sebagai martir, ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".
* Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.
Hari Valentine pada era modern
Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary".)
Tradisi Hari Valentine di negara-negara non-Barat
Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih”(White Day) muncul. Pada hari ini (14 Maret), pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.
Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah "Hari Raya Anak Perempuan" (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.
Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini cenderung menjadi budaya populer dan konsumtif karena perayaan valentine lebih banyak ditujukan sebagai ajakan pembelian barang-barang yang terkait dengan valentine seperti kotak coklat, perhiasan dan boneka. Pertokoan dan media (stasium TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.
Posted by deddynoer at 10:17 AM
Labels: Tentang Hidoep